Bawa Pertemananmu ke Tempat Lain Saja

Pernah dengar iklan kampanye bayar pajak? Yang bunyinya kira-kira begini...

"Tok tok tok..."
"Hai, Wan!" (nama disamarkan)
"Hai, Ton!"
"Wah, sudah lama kita tidak berjumpa ya?"
"Iya. Gimana kabarmu, Ton?"
"Aaah, ini loh. Perusahaanku ditagih pajaknya."
"Ooooh." (sambil tertawa terpaksa)
"Ternyata besar juga ya?"
Benar-benar tertawa terpaksa.
"Untung aku punya teman disini." (sepertinya pakai kedip-kedip mata) "Bantu lah aku. Jangan kuatir deh. Nanti aku kasih ehem ehem buat kamu."
"Wah. Maaf, teman. Aku tidak bisa. Aku sudah bersumpah kepada negara... bla bla bla..."
"Ah! Kamu kan temanku! Sok suci kamu!"
Gubrak! (Banting pintu)
"Ada apa, Pak? Ada apa, Pak?" (suara anak buah panik)
(Tersenyum bijak) "Tidak ada apa-apa. Hanya orang yang mencoba untuk membujuk saya berbuat yang tidak benar."
(Suara hati bicara) "Ternyata kamu yang bukan teman sejatiku. Kamu memaksaku berbuat yang tak sesuai dengan hati nurani bla bla bla..."

Basi banget, kan?
Yet, it stucks in my head like... forever.

Coba baca lagi kalimat terakhir si tokoh baik budi ini.
"Ternyata kamu bukan teman sejatiku."
Mirip dengan kalimat pada iklan anti narkoba.
"Teman sejati tidak akan membuatmu mati."
Yang sepertinya cocok juga dipakai untuk iklan anti teroris.

Saya membayangkan diri saya sebagai petugas pajak itu.
Terjepit antara kewajiban untuk berbuat jujur dan kewajiban untuk menjaga nilai pertemanan.
Saya membayangkan diri saya sebagai si korban narkoba itu.
Terjepit antara keinginan untuk lepas dari obat laknat itu dan keinginan untuk menyenangkan teman.
Karena saya bukan petugas pajak dan bukan korban narkoba, dan bukan pula petugas pajak yang terkena narkoba, saya mudah sekali bilang, "ya, jangan mau berteman dengan dia! Teman kok menjerumuskan begitu!"
Tapi kalau anda pernah berada pada posisi dimana nilai kesetiaan anda diuji oleh teman anda dari kesediaan anda mengikuti apa mau si teman.... ehem... ternyata tidak mudah ya.

Di luar kemasan iklan yang basi itu, saya mendapati suatu pesan bijak -yang entah sengaja atau malah tidak sengaja keluar dari iklan itu- akan nilai pertemanan.
Kamu kan temanku. Kenapa kamu tidak mau menolongku?"
"Katanya kamu kan temanku. Kok tega kamu membiarkanku begini?"
"Apa artinya kamu jadi temanku kalau kamu tidak mau mengikuti mauku?"

Dia yang berpikir temannya seharusnya mau menolong dia dengan cara mematikan hati nurani sesungguhnya tak pantas kita jadikan teman.
Seorang teman tidak akan pernah menaruh diri kita pada posisi dimana kita harus membutakan mata keadilan dan membisukan hati nurani hanya demi dirinya seorang.
Bawa pertemananmu ke tempat lain saja.

Muhasabah Cinta

Pulang dari Pesta Blogger 2009 tanggal 24 Oktober yang lalu, saya mendapat kejutan lagi. Ada sebuah paket berbungkus kertas coklat dengan kertas pengantar tertera nama Lingkar Pena disana. Tak sabar saya robek pembungkusnya dan...

Alhamdulillah, tulisan pendek saya berjudul Cinta Tak Selalu Merah Muda masuk dalam buku kumpulan cerita pendek Asma Nadia dan kawan-kawan. Buku itu telah terbit di tengah bulan Oktober. Ternyata.

Ini memang kejutan karena sudah lama sekali (lebih dari setengah tahun) saya tidak mendengar kelanjutan dari proyek buku itu. Bahkan, Mbak Asma sekarang sudah di luar negeri.

Eniwei, saya berharap buku ini berguna bagi yang membaca karena berisi curhatan penulis-penulisnya. Pengalaman jelek, jangan ditiru, yang baik, silahkan diingat-ingat. Mau tahu sedikit lebih banyak tentang bukunya? Lihat aja disini.
photo source: anadia.multiply.com

Not a Contest. It's a Sharing.

Tengah malam sebelum pagi hari Sabtu datang, saya berusaha membuka yahoo account saya. Berusaha dengan susah payah karena koneksi internet di rumah saya dodolnya gak ketulungan. Setelah bolak-balik refill kopi, kelar dua slide presentasi, ngutak-ngatik status FB, barulah inbox saya terbuka.

OHO? Ada email dari panitia Pesta Blogger 2009. Apa nih?! Saya klik email itu dan... saya harus menunggu seabad kemudian untuk melihat isi emailnya...

Beberapa saat kemudian...
Penantian saya berbuah manis. Sebuah surat undangan terpampang indah di depan mata saya.

Kepada Yth.
Ibu D Mariskova
Pemenang Lomba Menulis Pesta Blogger 2009
di tempat



Saya jingkrak-jingkrak joget-joget ketawa-tiwi sendirian dan dalam silent mode karena si Papap dan Hikari sedang tidur nyenyak. Alhaaamdulillaaaahhh.... Dan hari Sabtu kemarin, saya dipanggil ke panggung di PB09 untuk menerima hadiah sebagai pemenang kedua! Alhamdulillah!

Walau klise, saya terus terang tidak menyangka akan menang. Selain karena pesertanya seratusan orang, tulisan Pemenang itu saya tulis bukan untuk ikut lomba PB09. Tulisan itu saya tulis karena terinspirasi dengan upacara bendera di sekolah Hikari. Dan ketika saya lihat Writing Contest PB09 mempunyai tema yang sama, saya kemudian mengikut sertakan tulisan itu. Gak pernah saya mimpi bisa mendapat perhatian dari Arswendo Atmowiloto dan Ndorokakung!

Eniwei, satu hal yang membuat saya terharu menjadi pemenang lomba itu adalah perasaan bahwa saya bisa share sesuatu kepada manusia sejagad raya internet yang bisa Bahasa Indonesia. Bahwa sharing saya itu dibaca orang lain, dan mungkin (mungkin) menginspirasi orang lain. That's what blogging is about, for me. You write, share, and inspire.

Terima kasih kepada panitia, juri, dan teman-teman yang sudah memberi komentar di post tersebut. Juga kepada Daffodil, Je, dan Sanjaya_ken yang kebahagiaan mereka melihat saya bahagia terasa lebih besar dibanding kebahagiaan saya sendiri. Terima kasih kepada teman-teman yang selalu menyemangati saya menulis. Dan terutama, terima kasih kepada para siswa teman-teman Hikari, anak-anak Indonesia yang ikut upacara bendera waktu itu. Kalian telah mengajarkan saya arti nasionalisme dan pluralisme sesungguhnya dalam wujud yang paling bening.

photo source: pestablogger 09

Pencerahan yang tiada akhir...

Alhamdulillah untuk kehidupan,
untuk jiwa yang tidak pernah tersesat,
untuk pencerahan yang tiada akhir,
dan untuk hidup yang penuh makna.
Alhamdulillah.


Puitisnya kalimat-kalimat di atas menusuk-nusuk hati saya. Kalimat itu bukan buatan saya, melainkan buatan dia. Kalimat itu bukan untuk saya, tapi untuk dia. Tetapi saya ikut terpekur menyadari kenyataan bahwa saya mungkin lupa berterima kasih untuk apapun yang saya punya di hidup saya. Bagaimana dengan anda?

Alhamdulillah untuk kesempatan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan sepanjang hidup.

Beberapa bulan lalu saat sedang makan siang nikmat dengan teman di kantin yang panas membara HP saya berbunyi. Nomor tidak dikenal tapi dimulai dengan 0818.
"Halo?" kata saya.
Suara laki-laki berlogat bukan Jawa, bukan Betawi, bukan Sunda, terdengar di seberang sana.
"Selamat siang, Ibu. Saya dari XL dan ingin mengabarkan kabar gembira...." kalimatnya digantung.
"Ya?" jawab saya. "Seberapa gembira?"
Suara orang menelan ludah terdengar disana.
"Dalam rangka ulang tahun XL yang ke... (saya lupa secara saya enggak pernah inget angka), XL bekerja sama dengan TransTV mengadakan undian berhadiah. Daaan.... ibu salah satu pemenangnya..."
"..........."
"Bu? Bu?"
"Iya. Trus kenapa?"
Suara laki-laki menahan kesal.
"Ibu mendapat hadiah."
"Hadiah apa?"
"Uang sejumlah tiga juta."
"Cuma tiga juta?"
Suara laki-laki berusaha keras menahan kesal.
"Tolong Ibu catat nomor registrasi pemenangnya ya."
"Sebentar. Saya gak punya pulpen."
"Sudah, Bu?"
"Sebentar!"
"Nomornya...3f8e1c1d1a..."
"..........."
"Bu?"
"Ya?!"
"Bu, untuk mentransfer hadiahnya, kami memerlukan nomor rekening Ibu. Sekarang."
"Gak bisa."
"Kenapa?"
"Saya lagi nyupir."
"Bisa diambil kartu ATM nya aja untuk dilihat nomor rekeningnya?"
"Saya lagi nyupir. Bapak mau saya kecelakaan?!"
"Kalau gitu Ibu segera ke ATM terdekat aja."
"Gak bisa."
"Kenapa?"
"Saya lagi nyupir di jalan tol!"
Suara laki-laki tidak sabar.
"Kapan Ibu bisa segera ke ATM?"
"Sejam lagi. Biar saya aja yang telpon Bapak. Nama Bapak siapa?"
"Ibrahim Saleh."
"Oke."
Tuuuuuuuuuut. Telpon saya matikan sambil tertawa ngakak.

Sabtu siang, nomor telpon 0818906023 menghubungi saya. Suara laki-laki berlogat (lagi-lagi) bukan Jawa, bukan Sunda, bukan Betawi, terdengar.
"Selamat siang, Ibu. Saya dari XL ingin memberi tahu kabar gembira."
Saya menghela napas. "Lagi?!"
"Maksudnya?"
"Kabar gembira apa?"
"Dalam rangka ulang tahun XL kelima, kami memberikan hadiah kepada pelanggan XL."
"Terus?"
"Ibu salah satu pemenangnya."
"Terus?"
"Ya, Ibu menang."
"Ya, terus kenapa?"
"Ibu akan mendapat hadiah."
"Terus?"
"............." laki-laki itu diam.
"Ya? Terus kenapa kalau mendapat hadiah?!"
"Ah, sudah lah. Tak jadi lah, Bu!"
Dia langsung mematikan telpon.
Sialan! Harusnya juga gue yang matiin telpon duluan!

MY(!) McGyver

Sewaktu baru menikah, mama mertua saya pernah mewanti-wanti saya di depan anaknya, si Papap. Kata beliau, jangan pernah sekali-kali membiarkan si Papap bereksperimen dengan peralatan di rumah. Akibatnya bisa saya harus keluar duit untuk beli alat yang baru.
Alaminya, wanti-wanti mama mertua saya tidak digubris Papap. Ibarat ulat bulu yang ijo melihat dedaunan dan bunga-bunga Adenium saya, Papap juga selalu ijo liat mur, tang, dan gagdet rusak. Dari senter sampai mobil, semua dibongkar. Papi saya, si Kumendan, sempat stress liat kelakuan mantunya. Kenapa stress? Pak Dhe Mbilung bisa menjelaskan dengan singkat tepat dan padat: setiap mbongkar, lalu memasang kembali, selalu surplus mur satu.

Korban parah terakhir Papap adalah pipa air untuk shower di rumah kami.
Ceritanya pada suatu hari, Papap ingin memasang hanger untuk shower yang posisinya di atas kepala. Jauh-jauh hari, Papap sudah mengkomunikasikan keinginannya ini pada saya. Saya, seperti yang sudah-sudah, cuma bereaksi kalem: diam saja. Papap ternyata pantang mundur maju tak gentar. Dibelinya seperangkat alat shower lengkap, tanpa ijab kabul. Lalu dia pun mulai menukang. Seperti yang sudah-sudah, saya juga mencoba untuk berbicara kepadanya. Beberapa kali.
Gak panggil tukang? Gak panggil tukang aja? Pap, gak panggil tukang ajaaa?!
Jawaban Papap selalu standar: Ah, gak perlu. Gue juga bisa.
Bayangkan kegaulauan hati saya!

Papap pun memilih hari baiknya dan mulai menukang. Dia mengambil bor dan mengambil ancang-ancang untuk membor dinding kamar mandi pas di garis di atas shower yang pendek. Tidak sampai semenit kemudian yang saya takutkan terjadi: AIR MUNCRAT DARI DALAM DINDING! Papap dengan sukses membor pipa air yang tersembunyi di balik dinding kamar mandi.
Kejadian setelah itu sangat logis. Air merembes ke ruangan dibaliknya yang kebetulan kamar kami. Pipa air bolong susah ditambal. Dan pompa air harus dimatikan yang mengakibatkan kami krisis air mandi. Anda tahu apa yang Papap lakukan setelah melihat bornya menembus pipa? Papap berseru-seru pada saya, "Lihat! Lihat! Ternyata bolongnya disitu!"
Coba tebak reaksi saya...

Setelah kejadian itu, Papap yang memang terbukti sebagai laki-laki bertanggung jawab segera melesat ke toko bangunan. Setelah dia selesai mengganti pipa bangunan, saya mendapat pemandangan dinding kamar mandi yang bolong berhias pipa air. Permintaan saya untuk memanggil tukang untuk menyemen dinding jelas ditolak lagi oleh Papap. Dia menyemen sendiri dinding kamar mandi kami. Dan sekarang saya mendapat hadiah dinding kamar mandi yang bocel-bocel keramiknya.

Kamar mandi dengan keramik bocel, raket nyamuk yang beralih fungsi menjadi mainan Hikari, handphone Nokia yang kameranya jadi tidak fungsi setelah dibongkar, mini dvd player yang tidak bisa muter lagi karena sparepartnya dicabut-pasang, power window mobil yang bunyinya jadi mirip timba sumur... adalah contoh kreatifitas Papap. Kreatifitas yang hasilnya saya rasakan selama delapan tahun ini. Kreatifitas yang seringkali membuat darah tinggi saya kumat.

Hari senin lalu, Jakarta rupanya sedang merayakan Hari Macet Sedunia. Saat pergi ke kantor saya sudah dihadang macet 2 jam. Senja hari saat pulang kantor saya terkena antrian di pintu gerbang tol yang sudah ratusan meter panjangnya. Saat sedang mengantri, jantung saya hampir copot karena temperatur mobil tiba-tiba naik, naik, naik, naiiiiikkkk.... Saya langsung kasih sen kanan, banting setir, memotong jalan orang, dan keluar dari antrian masuk tol. Berdasarkan pengalaman, saya tahu saya hanya punya waktu beberapa menit saja untuk menepi sebelum radiator saya meledak. Kejadian yang pernah saya alami 5 tahun lalu.
Saya berhasil minggir dan mematikan mobil, tanpa peduli klakson mobil dan motor yang merasa terganggu karena celah jalannya dihalangi oleh saya. Semenit saya duduk di mobil tanpa tahu harus melakukan apa. Saya bukan perempuan bengkel. Saya jenis pengendara mobil yang bisa berpikir perubahan pada posisi spion mobil bisa membuat mobil mogok. Yang kemudian saya lakukan adalah menelpon Papap. Dan ketika telpon itu tidak dijawab -karena Papap pasti sedang memacu motornya di jalan pulang juga- saya hanya bisa pasrah mengetik sms sambil berharap si Papap tidak mengaktifkan silent mode di handphonenya.

Pap, temperatur mobil naik. Aku mogok di pinggir jalan di Pedati.

Setelah itu, saya bengong selama sepuluh menit di pinggir jalan diantara kemacetan dengan kaca jendela tertutup dan tanpa ac.
Tiba-tiba, handphone saya berbunyi. Nada dering yang saya pasang khusus untuk Papap. I could kiss him right there right then just to know that he called. Tigapuluh menit kemudian, Papap muncul di depan saya dan saya memandangnya seperti ksatria baja hitam yang datang menyelamatkan saya. I couldn't care less about Keanu Reeves at that time. Of course, unless Keanu could save me from my broken car.
Masih dengan jaket motor lengkap beserta sarung tangannya, Papap langsung membuka kap mobil. Handphone dipakai untuk senter, pisau swiss armynya dipakai untuk membuka mur di sana sini, beberapa botol yang saya tidak jelas isinya dikeluarkan dari bagasi. Papap langsung beraksi di pinggir jalan yang ramai. Dua puluh menit kemudian, temperatur mobil sudah distabilkan dan Papap pun memberi instruksi pada saya.
"Jalan aja. Aku ngikutin kamu dari belakang."
Mendengar kalimatnya, semua rasa takut dan khawatir saya hilang. Saya menyetir mobil dengan hati ringan. Walau jalannya mobil belum mulus, saya tak kuatir. Bayangan Papap di motornya di belakang mobil yang saya stir, sudah cukup untuk membuat hati saya tenang.

Lima belas kilometer perjalanan saya pulang ke rumah hanya satu yang saya pikirkan. Kejadian tadi membuat saya mengingat kembali kenapa saya bersedia menikah dengannya delapan tahun lalu. Betapapun Papap sering menguji level darah tinggi saya, saya selalu tahu satu hal tentang dia. He won't let anything bad happen to me.

Papap tersayang, selamat ulang tahun perkawinan yang kedelapan. I love you. I love you.

ps: terima kasih untuk mawar (pertama setelah 8 tahun pernikahan)nya. Aku akan pura-pura tidak tahu kalau kamu membeli itu di Kalimalang saat naik motor pulang ke rumah.

In Friends We Trust

To modern people like you and I, a friend means a lot more than just someone we meet on the street, at work, in KRL Jakarta-Bogor, etc. One Facebook's fortune cookie even mentions that one's greatest fortune is the large number of friends one has.

A friend oftentimes has more impact on us than our parents or siblings do. When we you get dumped, the first person you share the story with is your friend. Not your mom, especially not your father. When our office life is like hell, the one you share the details with is your friend. Not your brother or sister. When you are caught cheating on your boy/girlfriend, the one who finds it out first is your friend. Not your family members. We hardly share important-emotionally challenging issues in our life with our mother/father/brother/sister. When we talk to them, it is usually when we get promoted, when we get promoted, or when we get promoted.

Without disrespecting our parents and siblings, there are tons of reasons why we don't share our day-to-day stories with them.
1. There is always a speech following the storytelling session. I don't know about you, but I'm really not a good speech audience. And mind you, the speech can last more than a week.
2. This can come with the speech, or separately: the accusation. You are the problem, not the problem itself.
3. The insults, especially from your siblings. How could you be stupid like that?
4. There is this need to act like a good child in the eyes of our parents, even if you have to fake it.
5. There is this need to act like we are smarter than the rest of the world population in the eyes of our parents, therefore we never make mistakes.
6. ..................... (fill in yourself).

Friends, on the other hand, seem to always be there and do the right things when we have problems. Besides...
1. Our encounter with them is always meaningful (in the office handling difficult jobs from difficult boss).
2. Our encounter with them is always in the 'quality time'. From 8 to 5, Monday through Friday. The time when we meet our parents and siblings is usually before sunrise and after sunset.
3. Friends don't give us speech. If they do, they would never be our friends in the first place.
4. Friends don't insult our stupid action in front of us.
5. Friends give us applicable solution, no matter how silly the solution will seem to be in the future.
6. We don't need to be somebody else when we are with our friends. There is no demand to be the most perfect one. Friends don't do perfect.

Disagree?
Sure, you may argue that friends are not that all-angelic. You may argue that blood is thicker than teh botol you share with your friends. Well, you may not confide with some friends, but you do keep a short list of friends in the innerside of your heart. Don't you?

Then, what if that one friend you keep in your very very very short list hurts you?
Probably you would reconsider the definition of friend. You'd change the friend term in wikipedia if you could. You'd check if what that person does can be considered a crime and so it can justify you to send that person to jail. You might spam on Facebook bad-mouthing that person, or you'd close your Facebook account all together. Or, you'd just remove that person from your Facebook friend's list...

I, myself, have to admit that I don't really have that many friends out there. It's not because I am choosy. It's actually -well- embarassingly because those people can't stand me. And when some people can stand me, they usually fill my list of friends easily. And when they are in my extremely very short list, I usually regard them highly. I usually trust them without doubts.

But, again, as you may argue, even the friends in our very short list might hurt us, intentionally. I know. I have been there. And I should say the 'forgive but don't forget' thing is bull****. You can't forget, let alone forgive. No matter how hard you try. Trust me, I had tried really really really hard. The trying hard to forgive and forget is really exhausting. When it is not successful, it is not only exhausting but also frustrating. My heart is drained.

On the eve of this year's Eid El Fitr, I was in the car to visit some relatives. The sound of incoming sms filled the car continously. My friends sent me Eid Mubarak's greetings. Some sent me similar message, some sent me sms with greetings so beautiful that I kept them in a separate box. You might say that those people sending the sms might not really mean what they sent. You might argue that Eid Mubarak sms is just a trend, not a sincere request.

I don't care.
The fact that someone is willing to spend some Rupiah to send the greetings is touching.

Then, it was my turn to return the sms and to send some to others. I wrote the Eid Mubarak's message and started to check in the names. I started with the As. The name list in my cell phone went down, and down, and down... and I stopped. My used-to-be friend's name was still there. I hadn't delete it. And that moment, I froze. Really froze.

Let me tell you how it felt when I froze. I felt cold, and pain, and anger, and sadness, and anger, and more pain. I was staring at the monitor half the trip with memories filling inside my head. I could have skipped the name, you know. But, somehow, I couldn't do it as spontaneously as I wanted to.

Minutes passed. I knew I had to release my pain. It had been too long and I didn't want it to occupy my heart anymore. Enough is enough.
I looked down to my cellphone. My right thumb moved. I checked in that name and... SENT.

This year's Eid El Fitr taught me that some friends may not deserve our trust. But, I will always make sure I deserve my friends' trust. Do you?

Happy Eid Mubarak.
May you have an englightening Ramadhan this year.

A Letter Unsent

Jalan raya Alternatif Cibubur selalu mampu mengalirkan perasaan ngeri setiap kali.
Entah kenapa jalannya yang mulus dengan lebar yang melegakan serta panjang yang tak berujung itu tak mampu menularkan rasa perkasanya pada saya.
Yang ada hanya kengerian.

Mobil-mobil melaju kencang berbekal klakson dan lampu besar.
Motor-motor dengan pengendaranya yang sepertinya tak kenal dengan kata 'mati', seakan tak mau kalah memacu motornya.
Bis-bis, baik yang besar maupun yang sedang, seperti sedang kesetanan tanpa peduli dengan penumpang yang dibawanya.
Truk-truk tanah berwarna hijau lalu lalang tanpa beban seakan ukuran mereka tak beda dengan mobil sedan di sebelahnya.
Motor, mobil, truk militer hilir mudik tanpa pernah lupa mengeluarkan suara menyuruh kendaraan lain menyingkir sejauh mungkin.

Dan di titik itu, jalan besar yang lebar dan panjang itu menikung.

Setiap hari, setiap kali saya melewati titik menikung itu, hati saya selalu berjanji.
Saya berjanji untuk mengirim surat kepada penguasa jalan untuk beramah hati.
Dalam surat yang saya hapal betul isinya itu, saya akan menulis...

Penguasa jalan yang terhormat,
Sudi lah kiranya anda membuatkan kami
sebuah jembatan penyeberangan
yang akan menghubungkan satu sisi tikungan
dengan satu sisi tikungan yang lain.
Kasihani anak-anak sekolah
yang harus terlambat masuk sekolah setiap harinya
karena tak mampu bersaing cepat
dengan mobil, motor, bis, truk, dan kendaraan lainnya
yang melewati titik tikungan ini.
Kasihani para ibu-ibu dengan anak-anak digendongan,
orang-orang tua yang lamban,
para tukang jualan bergerobak
yang selalu berlemah hati
saat harus menghadapi jalan lebar di hadapan mereka.
Para penguasa jalan yang berkuasa,
semoga Tuhan mengetukkan hati anda
dan menggerakkan kaki anda
untuk mencoba menyeberang
di tempat kami kehilangan keberanian kami.



Berhari-hari lewat.
Berminggu-minggu lewat.
Berbulan-bulan sudah.
Saya tidak menepati janji saya.
Janji untuk membuat surat itu
dan mengirimkannya.

Lalu hari ini, saat saya lewat di titik tikungan itu,
keramaian sedang terjadi.
Mobil, motor, bis, truk, dan para manusia berhenti bergerak.
Mereka berkerumun di satu tempat.
Tempat seorang kakek tewas berlumur darah
karena tersambar truk
yang lewat kencang
di titik tempat jalan mulus yang lebar dan panjang itu menikung.

Bosan juga Manusiawi

Si Mami bilang saya pembosan.
Jelas saya protes!
Saya bilang pada Mami kalau saya ini pembosan nggak mungkin lah saya pacaran dengan Papap sampai 10 tahun dan masih tahan menikah dengannya sampai 7 tahun kemudian. Eh, ternyata kata Mami, dia tidak sedang membicarakan saya dan Papap, melainkan beragam merek pelembab muka yang berjejer nganggur di meja rias saya...

Di luar soal pelembab muka yang memang berjejer nganggur di rumah, saya bisa pastikan saya ini bukan jenis manusia pembosan. Ambil contoh soal pacar. Saya nggak bosan punya pacar Papap sampai 10 tahun. Urusan dia ternyata bosan sama saya, ya, masalah dia toh? Lalu, bagaimana mungkin saya ini pembosan kalau saya masih memakai baju yang saya beli 7 tahun lalu? Ya, kan? Atau sepatu? Saya jarang ganti sepatu selain karena sepatu saya rusak. Karena saya selalu memakai sepatu jenis boots, ya, biasanya lebih dulu sepatu itu berubah warna daripada rusak beneran. Alasan lain, sampai sekarang saya masih bekerja di perusahaan yang sama sejak 11 tahun lalu. Yah, walaupun soal yang terakhir ini mengandung unsur kebodohan sekaligus sentimentil dari pihak saya, fakta terakhir ini jelas mengukuhkan karakter saya yang bukan pembosan.

Bicara soal bosan, si Mami pernah hampir batal puasanya tahun lalu gara-gara pembantu rumah tangganya. Ceritanya si pembantu minta ijin pulang kampung jauh-jauh hari sebelum Lebaran dan bilang ke Mami kalau dia tidak akan balik lagi. Pertanyaan Mami kenapa mau pulang cepat dan nggak balik lagi dijawab singkat oleh si Embak.
"Bosen, Bu."
Kejadian setelah itu lebih baik tidak saya ceritakan demi terciptanya perdamaian dunia. World Peace.

Sekarang, saya mau pindahkan setting si embak tadi ke kantor kita (Iya, kita! Elu juga!). Salah satu alasan kenapa kita berniat pindah kerja adalah karena kebosanan itu. Bosan dengan pekerjaan yang itu-itu aja. Bosan dengan kolega yang itu-itu aja. Bosan dengan model berantem yang itu-itu aja seperti pada pengalaman pribadi saya. Bosan dengan bos yang itu-itu aja (Bos itu pasti gak pernah dipromosiin). Bosan dengan gaji yang segitu-gitu aja. Bosan dengan lokasi kantor yang enggak pernah pindah ke Bali. Bosan dengan makanan kantin yang dari Senin sampai Jumat nggak pernah berubah menunya. Pokoknya bosan! Pengen ada tantangan! Well, if boredom is human, so is challenge.

Sekarang saya mau menanyakan pertanyaan 1 juta dollar (karena biaya saya berobat setelah dikeroyok anda rame-rame mungkin bisa mencapai sejumlah itu).
Pertanyaannya: Apakah kebosanan itu sendiri etis dijadikan alasan untuk pindah kerja?
Memang ente tahu di kantor baru ente nggak bakal kena penyakit bosan juga?
Memang ente yakin tantangan di kantor baru akan membuat ente jauh lebih berasa hidup?
Atau jangan-jangan kebosanan itu sendiri sebenarnya adalah wujud ketidak mampuan kita untuk mencari tantangan di pekerjaan kita yang sekarang?
Apakah kita bisa mencari tantangan di pekerjaan yang baru?

Jawabannya jelas balik lagi ke motivasi kita masing-masing saat memutuskan untuk pindah kerja. Bosan nggak bosan, tantangan ada atau enggak, yang penting gaji lebih gede. Misalnya. Bosan nggak bosan, kantor sekarang lebih dekat rumah. Bosan nggak bosan, yang penting gue nggak ketemu muka lu lagi! Dan seterusnya. Semuanya alasan yang manusiawi seaneh apapun motivasinya. Hanya saja, call me old-fashioned, but I value someone based on his/her motive shown by his/her reasoning. Seperti juga si Mami yang langsung me-black list pembantunya itu (yang 2 bulan kemudian minta balik lagi ke si Mami) yang menilai karakter si embak dari alasan yang diucapkannya. Karakter kita pasti akan dinilai orang saat alasan-alasan keluar dari mulut kita.

Balik lagi ke soal bosan. Terkadang kata bosan keluar hanya untuk mencari jalan tersingkat untuk menyediakan alasan. Sementara alasan bahkan masalah yang sebenarnya malah tidak terselesaikan. Bukan begitu?

.... adalah Hak Setiap Bangsa

Kemerdekaan adalah Hak Setiap Bangsa


Suara laki-laki kecil itu lantang menembus udara pagi yang masih basah dengan embun. Dia mungkin tidak menyadari bila satu kalimat yang telah dia ucapkan telah membuat kami terdiam dalam suatu kesadaran yang mungkin baru datang setelah waktu lewat lebih dari hitungan belasan tahun.

Pagi tanggal 17 Agustus itu saya mendapat tugas mengantar Hikari ke sekolah untuk upacara sementara Papap harus menghadiri upacaranya sendiri. Ini upacara tujuhbelasan pertama yang akan dihadiri oleh Hikari. Konsep upacara pun masih tak jelas untuk seorang Hikari.

"Ma, upacara itu apa sih?" Itu pertanyaan Hikari di perjalanan menuju sekolah. Jawaban standar saya yang hanya menjelaskan soal-soal teknis tentang arti upacara tidak memuaskan Hikari.
"Kenapa harus upacara?" tuntut Hikari.
Kenapa? Kenapa?
Karena kita merayakan kemerdekaan kita?
Ah, terlalu dangkal. Kita bisa juga merayakan kemerdekaan dengan menyanyi-nyanyi kan? Atau ikut tarik-tambang? Atau ikut panjat pinang? Atau ikut pengajian syukuran kita sudah merdeka? Atau sekedar sujud syukur di pagi buta untuk tidur lagi kemudian?
Kenapa?
Karena kebiasaan?
Jawaban bunuh diri itu namanya.
Akhirnya saya memilih diam. Dan pertanyaan itu belum terjawab oleh saya. Sampai sekarang. Entah kenapa, Hikari juga memilih diam. Tidak menuntut jawaban seperti yang biasanya dia lakukan.

Kami sampai di sekolah bersamaan dengan datangnya anak-anak lain. Mereka semua riang-riang. Tidak ada yang merengut karena harus bangun pagi hanya untuk upacara. Murid-murid kemudian berkumpul di lapangan bersama dengan guru-guru mereka. Murid-murid berbaris rapi di lapangan. Tidak ada raut wajah terpaksa atau tegang. Guru mereka berdiri di belakang barisan dengan muka yang ramah. Petugas-petugas upacara cilik menempati posisi mereka dengan riang. Lalu, entah bagaimana awalnya, para orang tua ikut serta berdiri bersemangat mengikuti jalannya upacara walau dari pinggir lapangan.

Upacara dimulai. Mula-mula inspektur upacara, laki-laki kecil yang bertubuh besar berusia 9 tahunan, masuk ke tengah lapangan dengan sikap tegap. Tangan kanannya mengayun bersamaan dengan kaki tangannya. Lalu tangan kiri diayun berbarengan dengan kaki kirinya. Kami, para orang tua, tersenyum geli, tapi manusia-manusia Indonesia cilik di tengah lapangan itu tidak ada yang tertawa mengejek.

Kemudian, tiga orang petugas pembawa bendera cilik mendapat giliran untuk berjalan. Berbeda dengan para Paskibraka yang menjalankan tugas mereka di Istana Negara dengan segala gerakan yang telah diatur dengan cermat, petugas-petugas cilik ini berjalan dengan langkah percaya diri walau tanpa keteraturan tangan dan kaki. Ketika mereka akhirnya sampai di depan tiang bendera, para orang tua menahan napas. Apakah anak-anak kami itu mampu menjalankan tugasnya? Menaikkan bendera tanpa terbalik? Buat para orang tua yang jaman sekolah dulu kenyang dengan urusan baris berbaris menaikkan bendera ala militer, melihat para petugas cilik itu begitu percaya diri sekaligus tanpa beban membuat kami bergidik. Bukankah bendera begitu sakral? Kalau sampai terbalik, apakah ada yang akan dihukum push-up?

Lima belas menit kami semua menunggu. Lima belas menit! Menunggu tangan-tangan kecil mereka menalikan bendera ke talinya. Menunggu tangan-tangan kecil itu siap menaikkan bendera di tiangnya. Saya memandangi para peserta upacara. Suasana tetap khidmat. Tak ada ketegangan seperti upacara-upacara bendera yang kami tahu, tapi tetap khidmat. Tidak ada yang ribut dan berulah hanya karena harus menunggu bendera disiapkan selama lima belas menit. Kamera dan handycam telah lama disiapkan para orang tua untuk mengabadikan momen terpenting itu. Lima belas menit lewat, sebuah teriakan tegas terdengar dari mulut kecil seorang petugas.

"Bendera, siap!"
Kami, para orang tua, didikan jaman suatu orde dimana upacara dianggap lambang nasionalisme menahan napas. Dan ketika bendera terbentang sempurna dari jari-jari cilik para petugas, dada kami menggembung bangga. Ah, tapi para guru mereka sepertinya tak terpengaruh. Wajah mereka tetap wajah penuh kebanggaan kepada anak didik mereka sejak upacara dimulai hingga detik ini.
Inspektur upacara cilik lalu meneriakkan perintah memberi hormat. Dirijen cilik lantang menyanyikan bait awal lagu Indonesia Raya. Seluruh peserta upacara memberi hormat dan mulai menyanyi. Entah siapa yang memulai, kami, para orang tua yang berdiri berjajar tegap di pinggir lapangan memberi hormat pada bendera, dan menyanyi. Kami bernyanyi Indonesia Raya!



Belasan atau mungkin puluhan tahun telah lewat sejak upacara terakhir kami di sekolah. Mungkin juga sudah belasan atau puluhan tahun telah lewat sejak hati kami merasa tergetar saat mendengar lagu Indonesia Raya. Hari itu, kami ikhlas menyanyikan lagu Indonesia Raya, menghormat kepada bendera Merah Putih, mendengarkan Pancasila dan Pembukaan UUD 45 dikumandangkan tanpa sedikitpun berharap upacara segera berakhir. Walau tanpa pakaian putih gagah milik anggota Paskibraka dan tanpa gerakan baris-berbaris penuh perhitungan milik para anggota militer, upacara kali itu begitu penuh perasaan. Dan kebanggaan! Rasanya seperti kami menurunkan suatu warisan kepada anak-anak kami. Anak-anak yang menjadi masa depan negara kami!

Sebelum masuk ke mobil untuk pulang ke rumah, seorang ibu berkomentar.
"Apa tahun depan anak-anak perlu dilatih baris-berbaris ya? Supaya lebih rapi?" tanyanya ragu.
Orang tua lain tak langsung menjawab. Kami saling menatap. Tanpa dikomando kami menggeleng. Termasuk ibu yang bertanya tadi.
"Biarin aja lah bagaimana anak-anak itu. Toh benderanya terbuka dan naik juga."
"Iya. Biar aja model upacaranya seperti ini. Gak bikin nasionalisme berkurang juga kan?"

Kami pulang dengan puas. Dengan kesadaran baru bahwa nasionalisme tidak diukur dari berapa derajat kaki petugas upacara harus dinaikkan. Tidak diukur dari tinggi badan seorang petugas paskibra. Ketika kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, seharusnya kita bisa merdeka juga dalam mengekspresikan rasa nasionalime kan?

Blogger Templates by Blog Forum